KRITIK ARSITEKTUR
METODE KRITIK INTERPRETIF
·
Kritikus sebagai
seorang interpreter atau pengamat yang sangat personal
·
Bentuk kritik
cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim
objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.
·
Mempengaruhi
pandangan orang lain untuk bisa memandang sebagaimana yang kita lihat
·
Menyajikan satu
perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan
(biasanya perubahan cara pandang dengan “metafor” terhadap bangunan yang kita
lihat)
·
Melalui rasa
artistiknya mempengaruhi pengamat merasakan sama sebagaimana yang ia alami
·
Membangun satu karya
“bayangan” yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat sebuah
kendaraan.
TIGA TEKNIK KRITIK INTERPRETIVE
1. Advocatory
2. Evocative
3. Impressionistic
1.
Kritik Evokatif (Evocative) (Kritik
yang membangkitkan rasa)
Menggugah pemahaman
intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini
tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman
perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan)
dan fotografis (gambar).
2. Kritik
Advokatif (Advocatory) (Kritik yang membela, memposisikan diri seolah-olah
kita adalah arsitek tersebut.)
Kritik dalam bentuk penghakiman dan
mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan
dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh
arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan
menjadi bangunan yang mempersona.
3. Kritik
Impresionis (Imppressionis Criticism) (Kritik dipakai sebagai alat untuk melahirkan karya seni baru).
Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai
dasar bagi pembentukan karya seninya.1.
Kritik impresionis dapat berbentuk :
a) Verbal discourse (narasi verbal puisi atau prosa).
b) Caligramme (paduan kata)
c) Painting (lukisan)
d) Photo image (imagi foto)
e) Modification of building (Modifikasi bangunan)
f) Cartoon (menampilakan gambar bangunan dengan cara yang
lebih menyenangkan).
Dalam studi kasus ini, saya
ingin menggunakan metode kritik interpretif, dan menggunakan salah satu dari
teknik kritik interpretif, yaitu menggunakan metode kritik evokatif..
Studi kasus: Rumah MIKROBA (Mikro bamboo), Desa Dieng, Jawa
Tengah.
Rumah Mikroba
Rumah
mikroba di desa Dieng di mulai pembangunannya pada 9 November 2018. Rumah
Mikroba di bangun di atas lahan 1000m2 yang di jadikan sebagai homestay. Sebuah
konsep rumah mikroba yang di desa dieng per unitnya bias menampung 2 – 3 orang.
Menurut Yu sing (Prinsipal Arsitek) dan Jajang A. Sojaya (Direktur Bambuboss).
Rumah Mikroba ini di desain sesuai dengan fungsinya yaitu tempat penginapan.
Rumah mikroba ini menggunakan bahan bamboo yang dimana bahan bamboo ramah
terhadapat lingkungan dan mudah di dapatkan.
Untuk bagian
eksteriornya , bentuk sekilas hampir sama rumah-rumah tradisional, rumah di
jadikan panggung . Menurut sang arsitek rumah yang di jadikan panggung itu
memiliki fungsi banyak, yang dimana di bawah rumah itu bisa di jadikan
warung atau tempat kumpul.rumah mikroba
ini juga terlihat menarik karna materialnya memakai bamboo yang sejenis.
KRITIK EVOKATIF
Massa Bangunan
Eksterior
Rumah Mikroba yang berbentuk
rumah adat tradisional, rumah yang di desain rumah panggung.
Memberikan inspirasi
terhadapat masyarakat luar dan masyarakat di desa dieng tentang rumah mikro
yang di jadikan home stay yang unik.
gambar
interior Rumah Mikroba dapat kita lihat struktur bangun yang dari material
bamboo, dari dinding sampai atap