Senin, 26 November 2018

KRITIK ARSITEKTUR


 
KRITIK ARSITEKTUR

METODE KRITIK INTERPRETIF
·         Kritikus sebagai seorang interpreter atau pengamat yang sangat personal
·         Bentuk kritik cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.
·         Mempengaruhi pandangan orang lain untuk bisa memandang sebagaimana yang kita lihat
·         Menyajikan satu perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan (biasanya perubahan cara pandang dengan “metafor” terhadap bangunan yang kita lihat)
·         Melalui rasa artistiknya mempengaruhi pengamat merasakan sama sebagaimana yang ia alami
·         Membangun satu karya “bayangan” yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat sebuah kendaraan.

TIGA TEKNIK KRITIK INTERPRETIVE
1.    Advocatory
2.    Evocative
3.    Impressionistic
1. Kritik Evokatif (Evocative) (Kritik yang membangkitkan rasa)
            Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).

2. Kritik Advokatif (Advocatory) (Kritik yang membela, memposisikan diri seolah-olah kita adalah arsitek tersebut.)
Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.

3. Kritik Impresionis (Imppressionis Criticism) (Kritik dipakai sebagai alat untuk   melahirkan karya seni baru).
Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya.1.           
Kritik impresionis dapat berbentuk :
a)    Verbal discourse (narasi verbal puisi atau prosa).
b)    Caligramme (paduan kata)
c)    Painting (lukisan)
d)    Photo image (imagi foto)
e)    Modification of building (Modifikasi bangunan)
f)     Cartoon (menampilakan gambar bangunan dengan cara yang lebih menyenangkan).

Dalam studi kasus ini, saya ingin menggunakan metode kritik interpretif, dan menggunakan salah satu dari teknik kritik interpretif, yaitu menggunakan metode kritik evokatif..

Studi kasus: Rumah MIKROBA (Mikro bamboo), Desa Dieng, Jawa Tengah.

Rumah Mikroba

Rumah mikroba di desa Dieng di mulai pembangunannya pada 9 November 2018. Rumah Mikroba di bangun di atas lahan 1000m2 yang di jadikan sebagai homestay. Sebuah konsep rumah mikroba yang di desa dieng per unitnya bias menampung 2 – 3 orang. Menurut Yu sing (Prinsipal Arsitek) dan Jajang A. Sojaya (Direktur Bambuboss). Rumah Mikroba ini di desain sesuai dengan fungsinya yaitu tempat penginapan. Rumah mikroba ini menggunakan bahan bamboo yang dimana bahan bamboo ramah terhadapat lingkungan dan mudah di dapatkan.


  
Untuk bagian eksteriornya , bentuk sekilas hampir sama rumah-rumah tradisional, rumah di jadikan panggung . Menurut sang arsitek rumah yang di jadikan panggung itu memiliki fungsi banyak, yang dimana di bawah rumah itu bisa di jadikan warung  atau tempat kumpul.rumah mikroba ini juga terlihat menarik karna materialnya memakai bamboo yang sejenis.
                                                                                                           
KRITIK EVOKATIF

Massa Bangunan
Eksterior
Rumah Mikroba yang berbentuk rumah adat tradisional, rumah yang di desain rumah panggung.




Memberikan inspirasi terhadapat masyarakat luar dan masyarakat di desa dieng tentang rumah mikro yang di jadikan home stay yang unik.

Interior





gambar interior Rumah Mikroba dapat kita lihat struktur bangun yang dari material bamboo, dari dinding sampai atap


Tidak ada komentar:

Posting Komentar